Cikini Ke Ragunan: Kisah Pindahnya Kebun Binatang Jakarta

Cikini Ke Ragunan: Kisah Pindahnya Kebun Binatang Jakarta

Cikini Ke Ragunan: Kisah Pindahnya Kebun Binatang Jakarta Yang Menjadi Sebuah Inisiatif Pemerintah Dengan Berbagai Alasan. Halo para pecinta sejarah dan warga Jakarta! Sudahkah anda tahu bahwa ikon wisata satwa yang kita kenal sebagai Kebun Binatang Ragunan. Namun ternyata bukanlah lokasi aslinya? Terlebih jauh sebelum gajah, harimau, dan primata menempati lahan luas di Jakarta Selatan. Dan mereka semua tinggal di kawasan yang kini di kenal sebagai pusat kota yang sibuk. Ya, tempat kelahiran Kebun Binatang Jakarta yang pertama adalah di Cikininya! Maka sebuah fakta yang mungkin mengejutkan bagi banyak orang. Mengapa sebuah kebun binatang yang pernah menjadi primadona di kawasan elite harus berpindah lokasi? Mari kita telusuri bersama kisah menarik di balik transisi lokasi Cikini Ke Ragunan ini. Dan bersiaplah untuk mengungkap misteri di balik alasan logistik dan historis yang mengubah peta rekreasi di Ibu Kota!

Mengenai ulasan tentang Cikini Ke Ragunan: kisah pindahnya kebun binatang Jakarta telah di lansir sebelumnya oleh kompas.com.

Ruang Di Sana Semakin Terbatas

Pada awal berdirinya tahun 1864, kebun binatang pertama di Indonesia. Terlebih yang saat itu di kenal dengan nama Planten en Dierentuin (Taman Tanaman dan Binatang). Dan berada di kawasan Batavia. Tentu lokasi tersebut awalnya merupakan tanah milik pelukis terkenal Raden Saleh seluas sekitar 10 hektar. Pada masa itu, lahan tersebut dianggap cukup luas. Tentunya untuk menampung berbagai jenis satwa dan tanaman tropis yang di koleksi oleh masyarakat Eropa dan bangsawan pribumi. Namun, seiring berjalannya waktu, ia berkembang pesat menjadi kawasan pemukiman dan perdagangan yang padat. Pertumbuhan penduduk di Jakarta pada pertengahan abad ke-20 membuat area di sekitar kebun binatang di penuhi oleh rumah, toko, dan jalan raya. Akibatnya, ruang terbuka untuk memperluas kandang atau membangun fasilitas baru semakin terbatas. Selain itu, jumlah koleksi satwa terus bertambah. Banyak hewan berukuran besar seperti gajah dan harimau.

Cikini Ke Ragunan: Kisah Pindahnya Kebun Binatang Jakarta Dengan Berbagai Alasan

Kemudian juga masih membahas Cikini Ke Ragunan: Kisah Pindahnya Kebun Binatang Jakarta Dengan Berbagai Alasan. Dan alasan lainnya adalah:

Pertumbuhan Hewan Dan Koleksi Yang Membesar

Sejak awal berdirinya pada tahun 1864, kebun binatang di sana sudah menjadi pusat perhatian masyarakat Batavia. Kemudian di dirikan oleh Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Perkumpulan Seni dan Ilmu Pengetahuan Batavia). Dan berawal dari koleksi pribadi Raden Saleh, taman ini bukan hanya menampilkan tanaman hias. akan tetapi juga mulai memelihara berbagai satwa eksotis dari dalam dan luar negeri. Pada awalnya, jumlah hewan yang di pelihara masih terbatas, terdiri dari burung, reptil, dan beberapa mamalia kecil. Namun, seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap dunia fauna. Kemudian koleksi hewan terus bertambah pesat. Banyak di antara satwa tersebut merupakan hibah, hasil tangkapan, atau hadiah dari kolektor. Serta pejabat kolonial yang ingin memperkaya isi kebun binatang. Memasuki abad ke-20, jenis satwa yang di miliki semakin beragam.

Mulai dari gajah, harimau, kuda nil, hingga beruang. Hewan-hewan besar ini membutuhkan area yang luas untuk hidup, bergerak, dan berkembang biak secara sehat. Namun, lahan kebun binatang di sana yang hanya sekitar 10 hektar tidak lagi memadai untuk menampung mereka semua. Kepadatan kandang pun menjadi masalah serius. Banyak satwa di tempatkan di ruang sempit dan berdekatan satu sama lain. Kemudian menyebabkan stres dan meningkatnya risiko penyakit. Selain itu, minimnya ruang hijau alami. Serta kolam membuat kondisi lingkungan di dalam kebun binatang tidak ideal untuk menjaga kesehatan hewan. Masalah ini juga berimbas pada aspek konservasi dan edukasi. Pengunjung hanya dapat melihat hewan-hewan dalam kandang kecil yang tidak mencerminkan habitat aslinya. Hal tersebut berlawanan dengan tujuan utama kebun binatang. Terlebihnya yaitu menjadi tempat pembelajaran, penelitian, dan pelestarian satwa liar. Para pengelola menyadari koleksi satwanya terus bertambah.

Di Balik Ragunan: Jejak Kebun Binatang Pertama Di Cikini

Selain itu, masih membahas Di Balik Ragunan: Jejak Kebun Binatang Pertama Di Cikini. Dan alasan lain dari pemindahan ini adalah:

Kondisi Lingkungan Tidak Ideal

Pada masa awal berdirinya, kawasan Batavia (kini Jakarta). Tentu yang merupakan daerah yang masih asri dan memiliki suasana tenang. Lingkungan sekitar di dominasi oleh pepohonan, kebun, dan rumah-rumah bergaya kolonial dengan halaman luas. Hal ini membuat tempat tersebut sempurna untuk menjadi lokasi kebun binatang pertama di Indonesia. Karena satwa dapat hidup di lingkungan yang masih alami dan relatif sejuk. Namun, seiring berjalannya waktu dan berkembangnya kota Batavia menjadi Jakarta yang modern. Dan kondisi lingkungan Cikini berubah drastis. Daerah ini mulai di padati bangunan, rumah penduduk, sekolah, toko. Serta jalan raya yang ramai kendaraan. Akibat urbanisasi yang cepat, udara di sekitar kebun binatang menjadi panas, berdebu, dan bising. Tentunya dengan berbagai faktor-faktor yang sangat tidak mendukung kehidupan satwa liar.

Banyak hewan yang mengalami stres akibat kebisingan dan polusi, terutama hewan besar atau sensitif. Contohnya seperti harimau, gajah, dan burung langka. Kebisingan dari kendaraan, klakson. Serta aktivitas manusia di sekitar kawasan sebelumnya mengganggu ritme alami hewan. Kemudian termasuk waktu istirahat dan pola makan mereka. Selain itu, polusi udara yang semakin parah membuat kesehatan hewan menurun. Maka menyebabkan beberapa satwa lebih mudah terserang penyakit. Selain polusi udara dan suara, kualitas air di area sana juga ikut menurun. Sumber air yang di gunakan untuk minum. Dan juga kolam satwa sering tercemar limbah rumah tangga dan saluran kota. Sehingga tidak lagi aman untuk kebutuhan hewan. Kondisi ini memperburuk kebersihan lingkungan di dalam kebun binatang dan menimbulkan bau yang mengganggu pengunjung. Kepadatan kawasan perkotaan juga membuat ruang hijau di sekitar kebun binatang semakin berkurang. Sehingga suhu udaranya akan meningkat dan kelembapan alami menurun.

Di Balik Ragunan: Jejak Kebun Binatang Pertama Di Cikini Yang Jadi Inisiatif Pemerintah

Selanjutnya juga masih membahas Di Balik Ragunan: Jejak Kebun Binatang Pertama Di Cikini Yang Jadi Inisiatif Pemerintah. Dan alasan lainnya adalah:

Inisiatif Pemerintah DKI Jakarta

Pemindahan kebun binatang dari Cikini ke Ragunan tidak terjadi begitu saja. Namun melainkan merupakan hasil dari inisiatif dan kebijakan Pemerintah DKI Jakarta yang menyadari pentingnya pelestarian satwa. Serta perlunya fasilitas yang layak bagi hewan dan masyarakat. Pada awal tahun 1960-an, kondisi kebun binatang di sana sudah di anggap tidak memadai lagi. Lahan yang hanya seluas sekitar 10 hektar di tengah kota sudah penuh sesak oleh kandang, bangunan. Dan juga dnegan jalur pengunjung. Banyak laporan dan keluhan yang muncul terkait kesejahteraan hewan, bau tidak sedap. Terlebih hingga polusi suara yang mengganggu baik satwa maupun masyarakat sekitar. Menanggapi situasi tersebut, pemerintah DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Soemarno Sosroatmodjo mulai mencari solusi permanen. Pemerintah menyadari bahwa Jakarta, sebagai ibu kota negara.

Serta membutuhkan kebun binatang yang lebih modern, luas. Dan juga mendukung fungsi konservasi serta edukasi bagi masyarakat. Langkah konkret kemudian di teruskan oleh Gubernur Ali Sadikin. serta yang di kenal progresif dan peduli terhadap pembangunan fasilitas publik di Jakarta. Pada masa pemerintahannya, sekitar tahun 1964, Pemprov DKI bekerja sama dengan Perhimpunan Kebun Binatang Indonesia (PKBI). Kemudian membentuk tim khusus untuk merencanakan pemindahan lokasi kebun binatang ke area baru. Pemerintah DKI kemudian menyediakan lahan Ragunan secara resmi dan memfasilitasi proses pembangunan infrastruktur dasar. Contohnya seperti jalan, air, listrik, dan kandang baru untuk hewan. Pemerintah juga memberikan dukungan pendanaan dan memimpin koordinasi. Terlebihnya dengan lembaga-lembaga terkait agar proses pemindahan berlangsung lancar. Pada tahun 1966, setelah seluruh persiapan selesai, Kebun Binatang Ragunan resmi di buka untuk umum.

Jadi itu dia berbagai alasan dari kisah pindahnya kebun binatang Jakarta Cikini Ke Ragunan.